Breaking News

MENJAGA MEJA MAKAN INDONESIA: Catatan untuk Republik yang Lapar Stabilitas

 

     oleh: SUHUBDY

Data Buku

Judul:

Pentingnya Stabilisasi Pangan di Indonesia

Editor:

Erizal Jamal, Khudori, Lely Pelitasari Soebekty, Topan Ruspayandi, dkk.

Penerbit:

Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia (PERHEPI) bekerjasama dengan Penerbit Buku Kompas, Jakarta.

Tahun Terbit:

Cetakan I, 2024

Ukuran: 15 × 23 cm

Tebal: XVI + 304 halaman

ISBN: 978-623-160-489-7


Pangan tidak pernah hanya soal perut. Ia adalah pilar peradaban, sumbu stabilitas sosial, sekaligus cermin kedaulatan suatu bangsa. Untuk Indonesia, negara kepulauan berpenduduk lebih dari 270 juta jiwa, urusan stabilisasi pangan jauh lebih rumit daripada sekadar memastikan beras tersedia di pasar. Ia menyangkut harga yang adil, distribusi antarpulau yang njlimet, kebijakan impor yang sensitif, sampai peran berbagai lembaga negara yang saling tumpang tindih.

Dari titik tolak itulah buku Pentingnya Stabilisasi Pangan di Indonesia ini hadir, dan untuk saya, ia adalah karya kolektif yang patut diberi perhatian serius.


Suatu Karya Kolektif yang Bernyali

Buku setebal 304 halaman ini diterbitkan Penerbit Buku Kompas pada 2024, hasil kolaborasi dengan Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia (PERHEPI). Erizal Jamal memimpin tim editor bersama Khudori, Lely Pelitasari Soebekty, dan Topan Ruspayandi, nama-nama yang sudah lama akrab dengan diskursus kebijakan pangan tanah air.

Buku ini merangkum pemikiran sejumlah pakar lintas disiplin: ekonomi pertanian, kebijakan publik, hingga kajian kelembagaan. Tata letaknya bersih, sistematis, dan diakhiri dengan indeks yang membantu pembaca menelusuri istilah-istilah kunci, suatu detail kecil yang sering dilupakan penerbit lain, namun amat berguna untuk pembaca akademis.


Tiga Pertanyaan, Satu Republik

1. Mengapa buku ini perlu ditulis? Jawabannya bertumpu pada tiga pertanyaan mendasar yang menjadi tulang punggung seluruh bab.

2. Apakah Indonesia masih membutuhkan kebijakan stabilisasi pangan yang berkelanjutan?

3. Bagaimana stabilisasi itu seharusnya dijalankan? dan di mana posisi lembaga parastatal seperti Perum BULOG dalam keseluruhan ekosistem kebijakan tersebut?


Tiga pertanyaan itu tidak muncul dari ruang kosong. Ia lahir dari kegelisahan intelektual yang nyata: kebijakan pangan kita kerap inkonsisten, harga bergejolak, dan keseimbangan antara kepentingan petani produsen dengan konsumen perkotaan sering tergelincir. 

Lahirnya Badan Pangan Nasional (Bapanas), yang sejak hari pertama dihadapkan pada segudang tantangan kelembagaan, membuat urgensi buku ini makin terasa.


Keunggulan: Sejarah yang Diurai Sabar

Salah satu kekuatan utama buku ini adalah kedalaman penelusuran historisnya. Para penulis tidak puas hanya memotret kondisi mutakhir. Mereka menelusuri jejak kebijakan stabilisasi pangan sejak dekade 1970-an, lalu menyandingkannya dengan situasi hari ini.

Pertanyaan klasik mengapa rezim Orde Baru relatif berhasil mengelola stabilisasi pangan diuraikan sebagai cermin perbandingan yang tajam. Pembaca diajak melihat diskoneksi antara instrumen stabilisasi harga dengan kebijakan produksi, dinamika harga gabah dan beras dari hulu ke hilir, integrasi pasar antarpulau, sampai efektivitas pengendalian harga lintas wilayah. Semua disajikan dengan dukungan data empiris yang solid  bukan sekadar opini.

Yang menarik, buku ini juga menautkan persoalan stabilisasi harga pangan dengan agenda Sustainable Development Goals (SDGs). Tautan itu memberi dimensi global yang membuat kajiannya tidak terjebak menjadi diskusi domestik semata. Tak berlebihan jika buku ini menyebut dirinya sebagai “paket lengkap” kajian hulu-hilir kebijakan stabilisasi pangan.


Kelemahan: Bias Beras dan Lupa Indonesia Timur

Tentu tidak ada karya yang sempurna. Pertama, kajian buku ini terlalu dominan pada komoditas beras dan gabah. Komoditas strategis lain seperti jagung, kedelai, cabai, dan gula pasir kurang mendapat porsi setara. Lebih disayangkan lagi, sumber pangan hewani, baik dari ternak maupun ikan, nyaris tidak disinggung. Padahal, dalam logika ketahanan gizi nasional, protein hewani adalah pilar yang tidak dapat diabaikan.

Kedua, dari kacamata pembaca di Nusa Tenggara Barat dan Indonesia Timur pada umumnya, persoalan stabilisasi harga antarpulau yang kerap merugikan petani kecil masih kurang mendapat uraian mendalam. Padahal, di sinilah keadilan distribusi kebijakan diuji.

Ketiga, bahasa akademis yang digunakan di beberapa bagian cukup padat. Pembaca umum yang tidak berlatar belakang ekonomi pertanian mungkin perlu napas panjang untuk mengikuti alurnya. Rekomendasi kebijakan yang ditawarkan pun komprehensif secara analitis, tetapi belum cukup operasional. Ia masih meminta tindak lanjut konkret pada tataran implementasi.


Untuk Siapa Buku Ini?

Untuk pembaca yang hendak menyelami buku ini, saya menyarankan memulai dari bagian pengantar dan tinjauan teoretis. Pijakannya kuat di sana, sehingga bab-bab studi kasus akan terasa lebih masuk akal.

Akademisi dan peneliti pertanian akan menemukan kekayaan referensi serta kerangka analitis untuk pengembangan riset.

Para pengambil kebijakan dari Kementerian Pertanian, Badan Pangan Nasional, sampai pemerintah daerah akan mendapatkan cermin reflektif yang berharga untuk mengevaluasi desain kebijakan mereka.

Mahasiswa pascasarjana ilmu pertanian dan ekonomi pertanian dapat menjadikannya rujukan primer untuk memahami kompleksitas tata elola pangan Indonesia.


Peta Jalan di Tengah Mimpi Swasembada

Harapan yang dapat dipetik dari buku ini sesungguhnya melampaui sekadar wawasan akademis. Di tengah ambisi besar pemerintahan Presiden Prabowo Subianto yang menempatkan swasembada pangan sebagai pokok pikiran utama pembangunan nasional, buku ini menawarkan dua hal sekaligus: peringatan, dan peta jalan berbasis bukti.

Stabilisasi pangan, kata buku ini, bukan hanya soal menekan harga agar tetap rendah. Ia adalah ikhtiar membangun sistem yang adil untuk petani sekaligus terjangkau untuk konsumen. Tanpa reformasi kelembagaan yang serius, tanpa sinergi antara kebijakan produksi dan distribusi, dan tanpa komitmen politik jangka panjang yang melampaui siklus pemilu, mimpi swasembada hanya akan terus tertunda.


Penutup: Pijakan Tindakan Nyata

Secara keseluruhan, Pentingnya Stabilisasi Pangan di Indonesia adalah sumbangan intelektual yang signifikan dalam khazanah literatur kebijakan pangan nasional. Ia hadir pada momen yang tepat ketika Indonesia sedang merancang ulang arsitektur ketahanan pangannya, dan ketika daerah seperti NTB menunggu kebijakan yang berpihak pada petani-nelayan kecil.

Buku ini layak dibaca, layak didiskusikan, dan yang terpenting, layak dijadikan pijakan tindakan nyata demi terwujudnya kedaulatan pangan yang berkeadilan, dari Sabang sampai Merauke, dari Lombok sampai Sumbawa. Semoga berminat menyimaknya! [suhubdy.unram.ac.id].

---------------

Penulis Resensi adalah Guru Besar Fakultas Peternakan Universitas Mataram, Pemerhati Dinamika Literasi Dan Perkembangan Informasi Global, tinggal di Gunsa (NTB).

0 Komentar

Type and hit Enter to search

Close